• LOGIN
  • No products in the cart.

Bagi Penulis, Editor Memang (Tak) Sepenting Itu

Menjadi editor tak melulu soal teks, teks, dan teks. Jangkauan kerjanya seharusnya lebih luas dari itu. Seorang editor adalah dirigen bagi sebuah karya. Ia harus mampu mengubah karya yang kacau menjadi rapi; karya yang semrawut menjadi sedap dipandang dan dinikmati; karya yang penuh cacat menjadi mendekati sempurna.

Lebih jauh dari itu, seorang editor harus mampu mengubah hidup penulis ke arah lebih baik.

Untuk lebih memahami tentang hal ini, mari menyimak pengakuan salah seorang penulis yang berhasil saya lejitkan menjadi salah satu profesional berbekal empat buku yang berhasil diterbitkannya di penerbit besar dengan embel-embel best seller.

 


 

Layaknya sebuah perjalanan panjang yang terjadi dalam kehidupan, sebuah cita-cita selayaknya harus senantiasa dibangun sejak kita sadar akan memulainya dari alam pikiran. Berawal  di tahun 1998 saat mengikuti training pertama kali di Singapura, dalam gelaran di Baking International Training Centre (BITC), sungguh saat itu saya merasa memperoleh banyak ilmu baru di dunia baking setelah lulus dari kuliah.

Saya merasa bahwa ilmu yang nantinya digunakan dalam membantu saya bekerja akan sangat memberikan manfaat kepada banyak orang, di samping membantu pelanggan-pelanggan perusahaan di tempat kerja saya. Mulai saat itu, saya sadar bahwa suatu saat ilmu yang saya peroleh akan saya bagikan kepada banyak orang melalui sebuah buku.

Mimpi itu terus saya genggam. Erat-erat.

Dari tahun 1998 hingga akhir 2011, cita-cita untuk menulis sebuah buku dalam bentuk buku pengetahuan dan panduan untuk berwirausaha di bidang bakery tenggelam di terjang kesibukan kerja yang hingga posisi akhir sebagai Manajer Pemasaran di salah satu perusahaan terigu di Jawa Tengah.

Hingga pada suatu malam di tahun 2011, saat kopdar di komunitas Tangan di Atas (TDA) atas izin yang Mahakuasa, saya di pertemukan dengan salah seorang editor dari salah satu publishing besar. Itulah pertemuan pertama saya dengan Mas Fachmy Casofa.

Pertemuan itu tidak saya sia-siakan dan langsung saya utarakan niat saya untuk menulis sebuah buku.

Mungkin sebagian orang mengawali karier menulis dengan mengirimkan naskah ke penerbit,  namun pada kasus  yang saya alami justru saya memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan editornya, lalu mulai brainstorming, diskusi ide-ide, hingga bersama-sama kami menelurkan konsep buku.

Yah, hanya konsep. Naskah belum ditulis sama sekali.

Namun, Mas Fachmy berhasil mengolah konsep tersebut menjadi sebuah outline yang memudahkan saya untuk menulisnya. Saya benar-benar kaget, karena karier pertama saya sebagai penulis justru tidak menyelesaikan sebuah naskah secara utuh yang kemudian dikirimkan ke penerbit, tetapi hanya berdasarkan sebuah ide. Dan jika Mas Fachmy tak mengajari saya teknik membuat outline, tentu saya akan kebingungan dari mana saya harus memulai menulis naskah tersebut.

Idealisme saya saat itu adalah menggagas buku tentang ilmu pengetahuan di bidang bakery atau ilmu perihal baking. Konsep bukunya memiliki muatan keilmuan sekaligus diarahkan agar menginspirasi para pembaca untuk memulai usaha di bidang bakery, dari sinilah akhirnya muncul ide besar dengan tema bakepreneur dalam buku pertama yang saya tullis.

Untuk lebih menguatkan ide buku berlandaskan pengalaman karier yang saya miliki, maka atas arahan Mas Fachmy buku di buat konsep “lengkap” dari A hingga Z perihal bakery yang berisi referensi komplit perihal klasifikasi produk, pengetahuan bahan dan fungsinya, proses pembuatan roti dan berakhir dengan perhitungan komersial jika seseorang ingin menjadi bakepreneur.

Tidak terasa, sejak pertemuan pertama tersebut hingga sekarang, saya akhirnya bisa menelurkan 4 buku dengan tema besar bakepreneurship, atas arah dan pengawasan Mas Fachmy, yakni UKM Naik Kelas, Cakepreneur dan buku keempat yang masih dalam proses penulisan yaitu Pastrypreneur.

Tema besar bakepreneurship bagi saya sebenarnya adalah rangkaian dari kisah perjalanan karier diri saya sendiri. Buku yang saya tulis sebenarnya merupakan sebuah proses kehidupan saya dalam memasuki dunia entrepreneurship, setelah saya resign sebagai profesional di sebuah perusahaan terigu terbesar di Jawa Tengah. Impact terbesar yang saya rasakan adalah buku yang saya tulis merupakan sebuah cara untuk membangun otoritas (authority) dalam bidang keilmuan ataupun bidang usaha yang dirintis.

Tiga pengaruh besar perjalanan karier saya setelah menjadi penulis adalah sebagai berikut:

1 – Membangun personal brand sebagai seorang yang memiliki authority atau kemampuan dalam dunia bakery, sehingga sejak 2011 saya memiliki profesi lain sebagai Baking Consultant, sekaligus sebagai Guest Lecture di berbagai Sekolah Tinggi Pariwisata di Indonesia.

2 – Membangun relasi baru atau memperoleh pelanggan baru. Pelanggan baru terjauh produk bahan baku roti yang saya buat adalah pembaca buku A-Z Bakery yang berdomisili di Papua.

3 – Selain sebagai Baking Consultant, buku yang saya tulis merupakan pintu untuk membuka ketrampilan baru sebagai Business Coach. Salah satu client yang saya coach merupakan business owner yang mengenal saya lewat buku A-Z Bakery dan sudah saya dampingi dalam proses empowering di perusahaannya lebih dari 2 tahun.

Dengan rangkaian pengalaman yang saya peroleh dalam dunia kepenulisan tidaklah berlebihan bahwa Mas Fachmy Casofa merupakan mentor terbaik saya di bidang penulisan, dan melalui ide kreatif yang disampaikannya setidaknya saat ini sudah 4 buku di bidang bakery yang berhasil saya tulis.

 


 

Husin Syarbini, yang setelah menulis buku A-Z Bakery kemudian membuat BLOG dengan nama yang sama, atas arahan saya juga kini sudah mulai memasuki ranah digital, demi makin memperkuat personal brand-nya.

Ah, sungguh, kerja editor tak melulu soal teks, teks, dan teks. Area kerja terbaiknya dan terseharusnya justru satu: mengubah hidup penulis ke arah lebih baik.

Itu.

 

Fachmy Casofa
Co-Founder InstitutPenulis.id

0 responses on "Bagi Penulis, Editor Memang (Tak) Sepenting Itu"

Leave a Message

Copyright©Institut Penulis Indonesia

Juru Tempa Penulis Indonesia

 
X