• LOGIN
  • No products in the cart.

Menulis Sekaligus Bersenang-Senang

Annemarie Schimmel, yang mengagumi Muhammad Iqbal ini, menerjemahkan Javidnama, karya besar pujangga Pakistan tersebut. Hingga kemudian, pemerintah Pakistan menganugerahinya Hilal Al-Imtiyaz; penghargaan teratas yang diberikan kepada warga sipil.

Pada 1988, setelah tiga puluh tahun sebelumnya ia menjejak pertama kakinya di Pakistan itu, namanya dijadikan beasiswa kepada mahasiswi pascasarjana untuk melanjutkan studi di Inggris. Serunya lagi, sebuah jalanan indah Lahore dengan pepohonan di kanan kirinya yang anggun, menggunakan namanya. Karya tulisnya mencapai lebih dari 80 judul buku dan esai serta makalah yang tak terhitung banyaknya.

Pada tahun 1995, ia pun mendapat penghargaan German Book Trade Peace Prize, dan mendapatkan dua puluh lima ribu Euro dari Muhammad Nefi Chelebi Media Prize dalam sebuah seremoni yang berlangsung di National Islamic Archive, Jerman.

Serentetan award tersebut merupakan bukti keproduktifan dan keaktifannya dalam berkarya. Dan saat seorang penulis begitu produktif berkarya, berarti dia menikmati prosesnya. Maka, pertanyaan itu perlu diajukan kepada diri: seberapa jauh, seberapa dalam dan seberapa menikmatinya kita dalam proses menulis?

Tetapi, merasakan keasyikan bukan berarti tidak ada kesulitan menghadang. Ada. Bahkan, justru lebih sering. Akan tetapi, ini seperti bermain kelereng saat hendak menembak sasaran. Kita merasa tertantang. Saat kena, kita riang alang kepalang. Saat meleset, kita penasaran setengah mampus.

Menulislah, sekaligus bersenang-senanglah saat melakukannya.

12 May 2016

0 responses on "Menulis Sekaligus Bersenang-Senang"

Leave a Message

Copyright©Institut Penulis Indonesia

Juru Tempa Penulis Indonesia

 
X